Sabtu, 10 Oktober 2020

Kenapa??

 Kenapa masih mencari, mencari jawaban dari semua pertanyaan baik dalam hati maupun pikiran, entah itu tentang perasaan, keresahan, kesenangan, dan hal yang tak bisa ku ungkapakan.
Mengapa, mengapa aku harus mencari jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan yang sedikitpun berpengaruh untukku sekarang ga tau kalo untuk masa depan!
Kenapa mesti ada pertanyaan kenapa Pemerintah masih tidak peduli dengan Rakyatnya,  padahal Rakyatnya tersiksa oleh kebijakan-kebijakan yang dibuat, oleh sistem yang ada. Rakyat yang menderita harus mengadu kesiapa? Tuhan? Tuhan yang mana? Pada zaman sekarang banyak yang mengaku jadi Tuhan!
Kenapa harus ada pertanyaan. Kenapa?? Kenapa??

"Yaa Jalan tunjukan aku Tuhan yang benar" itulah Do'a ku kali ini



Senin, 16 Desember 2019

RESENSI NOVEL JEJAK LANGKAH "PRAMODYA ANANTA TOER"

SINOPSIS
Novel "Jejak Langkah" adalah bagian dari tetralogy buruh yang ketiga setelah "Bumi Manusia" dan "Anak Semua Bangsa" yang ditulis oleh Pram semasa berada di pulau Buru, tidak hanya ditulis, buku ini sebelumnya juga telah diceritakan secara lisan kepada teman-teman di pulau Buru.
Dalam novel ini bernuansa zaman kolonial. Pada setiap peristiwa yang ditulis sangat rapi dengan detail gambaran tempat, waktu dan suasana yang membuat kita merasa seakan berada pada masa kolonial.
Buku ini juga menjelaskan bagaimana awal berdirinya organisasi pribumi di Nusantara. Dan dikemas dalam sebuah sejarah roman yang membuat kita memahami sejarah bukan hanya sebagai pelajaran yang dihafal. Tetapi juga membuat kita seakan larut dalam suasana sejarah itu.

RESENSI
Jejak langkah adalah buku ke-3 dari 4 seri tetralogy pulau buru karya Pramoedya Ananta Toer, dalam kisah yang berjudul Jejak Langkah ini, masih dengan tokoh utama yang sama yaitu, Minke. Dalam kisah ini Minke sudah berpindah dari Surabaya ke Batavia (Jakarta, pada saat ini), dia mendapat beasiswa untuk meneruskan pendidikan disekolah kedokteran yang bernama S.T.O.V.I.A yang diperuntukan untuk Pribumi, dan mulai dari situlah Minke mulai berkenalan dengan petinggi Hindia, bahkan Minke sampai bersahabat dengan Gubernur Jendral Hindia pada saat itu. Namun semua terjadi bukan bergitu saja, namun karena semua petinggi Hidia pada saat itu merasa kagum dengan tulisan-tulisan minke, dan tak percaya bahwa tulisan itu ditulis oleh seorang pribumi.
Dalam kisah ini tidak melulu tentang pergerakan Minke dalam memanjukan bangsa yang dicintainya, namun terselip juga kisah cinta Minke dengan seorang aktivis dari negeri China (Sekarang Tionghoa) bernama Ang San Mei, dan juga seorang Prinses Van Kasiruta, putri seorang raja Maluku.
Namun Minke tidak dapat menuntaskan pendidikan Kedokterannya di S.T.O.V.I.A karena dia dipecat, dan diwajibkan mengembalikan seluruh beasiswa yang telah diberikan Gubermen, yang amat sangat besar, sehingga direktur kampusnya sendiri pun tak yakin Minke akan sanggup membayarnya, namun ternyata Minke menyanggupi besaran biaya yang harus dia kembalikan.
Setelah dikeluarkan dari S.T.O.V.I.A Minke kembali menekuni dunia lamanya, yaitu Jurnalistik, dan sampai akhirnya dia mendirikan sebuah organisasi dengan nama Syarikat Priyayi, dan ini merupakan awal mula lahir dan terbitnya Koran mingguan Medan Priyayi, dan mendapat perhatian dari masyarakat. Namun organisasi yang digagas oleh Minke tak mampu bertahan karena banyak anggota yang vakum, namun Minke berhasil menyelamatkan Medan Priyayi sehingga mampu tetap eksis memberikan pencerahan kepada masyarakat.
Belajar dari pengalamannya Minke memikirkan tentang hal apa yang mampu menyatukan suatu organisasi, hingga akhirnya Minke menyadari bahwa perdagangan mempu menjadi alat pemersatu, maka didirikanlah Syarikat Dagang Islam (S.D.I). tanpa diduga SDI berkembang dengan pesat, dengan berkembangnya SDI yang begitu pesat muncul gerombolan-gerombolan yang ingin merusak dan mengancam eksistentsi SDI, tak jarang gerombolan, gerombolan itu melakukan kekerasan, sehingga mendorong anggota S.D.I. belajar bela diri, yaitu pencak silat. Pencak silat mulai berkembang dan dipelajari oleh kaum pribumi untuk membela diri dari ancaman gerombolan pengacau tersebut.
Namun ancaman-ancaman yang diberikan oleh gerombolan-gerombolan tersebut tak berarti bagi SDI, dan SDI masih tetap eksis bahkan Medan dan SDI semakin berkembang. Akhirnya Minke mendelegasikan pekerjaannya kepada orang-orang yang diapercaya, dan dia berminat untuk menjadi seorang penyebar propaganda untuk memberikan penyadaran kepada teman sebangsa yang memiliki nasib serupa yaitu terjajah.
Namun kenyataan berkata lain, Minke gagal untuk menyebar propaganda karena Medan dipreteli dan kantornya disegel, karena dianggap menyebar berita yang menghina Gubernur Jendral. Rumah Minke didatangi oleh polisi dan Minke diberi surat penahanan atas “Hutang bangsa Tuan Minke, yang diatas namakan pribadi Tuan”. Kejadian ini sangat dramatis, hingga Minke dibawa, ia menyempatkan menuliskan sepucuk surat kepada istrinya melalui pembantu rumahtangganya. Dan Minke pun diasingkan dari Pulau Jawa.

Tokoh-tokoh
1. Minke
2. Mei / Princes
3. Ayah
4 Bunda
5. Mamah
6. Sadiman
7.  Wardi
8. Marko
9. Hendrick
10. Robert
11. Partotenejo
12. Ter Haar
13. Jenderal van Heutsz
14. Ibu Badrun
15 Mir Frischboten

Kekurangan
1. Penjelasan latar sangat panjang kadang juga melebar
2. Untuk dapat memahami dan mengikuti alur dan suasana yang digamarkan perlu mencapai halaman yang  jauh (penulis sendiri butuh sampai halaman 100-200)
3. Memerlukan pemaharuan bahasa karena sudah ditulis lama

Kelebihan
1. Novel "Jejak Langkah" mengenalkan sejarah beserta suasana yang bisa dirasakan saat membacanya
2. Mengenalkan sebuah sejarah yang tidak dibahas dalam pelajaran yang dikemas sebagai novel sejarah roman
3. Penggunaan bahasa asing selalu dilengkapi penjelasan detail berupa footnote


Judul       : Jejak Langkah
Penulis   : Pramoedya Ananta Toer
Halaman : 724
Penerbit  : Lentera Dipantara
Cetakan  : 9, Februari 2012
ISBN        : 979-97312-5-9

Sabtu, 28 September 2019

Perjalanan I

Assalamualaikum
Salam sejahtera buat kita semua.

Perjalanan adalah sebuah proses pengalaman yang tidak sengaja terbentuk dan manis untuk diingat kembali, ntah itu hal-hal pahitnya ataupun hal-hal manisnya. 
Tanpa kita sadari kita sendiri sedang melakukan perjalanan untuk proses pengalaman di masa yang akan mendatang, dan ini terjadi tanpa kita sadari. 
Untuk siapa pengalaman itu?? 
 Tentu saja untuk diri-sendiri agar dapat menjadi bekal di kemudian hari, agar dapat menghindahari hal-hal yang pahit. Dan juga untuk kita bercerita kepada orang-orang yang mempertanyakan perihal Perjalanan kita sendiri.
 Bila tidak salah Che Guevara pernah bilang kepada kawannya seperti ini "kita di berikan kedua kaki oleh Tuhan itu untuk berjalan".
 "Maka lakukanlah perjalanmu itu sendiri, sejauh mungkin. Dan jangan lupa tempat kamu pulang adalah Rumah."
BERIJALAN62

Terimakasih
Wassalamualaikum